Ego, kata itulah yang gambarin aku saat itu. Aku bertengkar denganmu. Aku menyalahkanmu atas apa yang tak kau perbuat. Lucu, sepertinya aku hanya takut itu gak akan terjadi lagi. Dalam artian itu hanya sekali dihidupku. Tapi kau tau ketakutan ini menjadi sesuatu hal yang gila untuk aku percayai. Karena memang aku gak akan melakukan ego itu ke orang lain lagi, tapi ke-egoisan itulah yang membuatku teringat betapa bodohnya aku waktu itu.
Aku mengingat semuanya dari awal, dari saat semuanya dimulai. Dandanmu berantakan, nemenin temenmu yang sedang kasmaran, dan ya disitu ada mimpi burukmu yang sedang berdiri menatapmu dan mengatakan beberapa kalimat “hei, salam kenal”. Aku menyalahkan diriku atas pertemuan kita waktu itu seandainya waktu bisa ku-ulang. Namun itu gak mungkin, mimpi burukmu tetaplah aku meski aku menghindari pertemuan itu. Kini aku menerima semua itu, semua masalah memang bercokol padaku, setiap hari aku hanya jadi viewer stories akun mu lalu kemudian akun tersebut aku lenyapkan untuk menghindari rasa sedihmu ketika mengingatku. Mungkin orang lain ketika membaca tulisan ini bilang “Ah elu aja yang ke-GR-an”, mungkin iya, tapi mungkin juga gak. Mungkin bagimu “Ah kamu udah bahagia kan, kamu udah mengeluarkanku dan memulai semuanya dengan yang baru. Ini kan yang kamu harapkan?”.
Tak semudah itu. Jujur aku punya harapan tinggi saat aku teringat awal kisah kita dan saat semuanya udah berakhir. Dan kabar buruknya dunia ini masih berputar saat semuanya udah berakhir.
Maafin aku, mungkin gak ada kata lain yang perlu aku sampaikan ketika ketemu denganmu. Itupun kalau kamu mau. Karena berdasarkan perhitunganku, untuk menatap wajahku pun kamu gak bakalan mau. Ayolah buka emailmu, kita ngobrol disana meski aku tau kamu benci banget denganku