Di awal Juli 2023 banyak pemberitaan, trending twitter, FYP Tiktok, Instagram Post yang menyebutkan biaya Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) atau biasa disingkat QRIS (dibaca KRIS, inget bacanya KRIS bukan Qyuris, ORIS ataupun KERIS) itu naik dari yang awalnya gratis menjadi 0.3% per transaksi. Pada awalnya saya ter-trigger dengan berita ini, “Betapa kapitalis pemerintah yang dengan seenak jidat membebankan biaya kepada rakjat misqueen, heran dweh”. Namun semakin kesini saya juga semakin menyadari kalau “yah semua pasti bayar, server gak ada yang gratis bung”
Namun yang jadi masalah disini apakah itu fair? Saya bisa bilang ini masih wajar dan adil atau fair dikarenakan pengguna QRIS masih sebatas di kalangan menengah ke atas, jarang (saya menyebutnya jarang jadi bukan berarti gak ada sama sekali) kalangan yang dibawah pakai QRIS. Saya jarang melihat ibu-ibu di pasar waktu beli jahe merah atau bumbu dapur terus bilang ke abangnya “Bang pakai QRIS ya”. Itu jarang banget, meski di Pasar daerah saya sudah ada beberapa penjual yang memasang scan QRIS di tokonya.
2 Hari yang lalu saya juga udah membuktikan di beberapa warkop langganan saya di malang yaitu di daerah Sukarno Hatta dan di terusan dieng. Owner nya saya tanyain tentang QRIS dan beberapa diantaranya membebankan tambahan Rp. 1.000 kepada pelanggan ketika pelanggannya meminta bayar pakai QRIS. Apakah ini boleh? Saya lantang jawab, TIDAK!! Karena potongan yang dibebankan oleh QRIS maksimal hanya 0.7% dari transaksi yang masuk. Yang artinya ketika anda mengeluarkan Rp. 10.000, toko nya hanya kepotong Rp. 70. 70 Perak mas please.
Itu adalah contoh dari dr. Tirta, dimana yang terlihat potongannya gak seberapa dibandingkan kelebihannya. Tunggu, kelebihannya? Maksudnya?
Nah saya jelasin disini, beberapa orang (termasuk saya) adalah tipe orang yang hanya bawa uang Rp. 100.000 di dompet dan sisanya pasti cashless dikarenakan di Malang Raya hampir setiap toko pasti punya scan QRIS baik itu shopee, Ovo ataupun Gopay (minggir kau LinkAja dan Virgo), dan ketika saya masuk ke suatu tempat toko, saya pasti bertanya
?: Mas bisa pakai QRIS kan?
?: Eh apa mas? Keris?
?: Itu lo mas scan barcode
?: Oh Kyuris? Bisa mas
Saya pasti langsung order, tapi kalau gak bisa ya biasanya saya cari tempat lain. Hahaha, tapi ini beneran, saya hanya biasa bawa uang Rp. 100.000 untuk jaga-jaga. Kecuali waktu pulang kampung pasti saya banyakin cash nya karena ATM jauh, orang-orang di kampung saya mana ngerti QRIS. Lah wong Google Place aja gak ngerti.
Intinya adalah, apakah kenaikan harga ini sudah sepadan? Well selama dipasar dan pedangang sayuran menerapkan QRIS maka kenaikan ini masih terbilang wajar, cuman 0.7%, bandingkan shopee potongannya udah 7% kan gak sebanding. Mungkin yang jadi masalah adalah edukasinya yang masih belum menyeluruh di tambah orang-orang yang anti pemerintah juga masih banyak, dan itu lah yang bikin wacana kalau QRIS ini kapitalis. hahaha
Akhir kata, terima kasih