Sejak awal bertemu denganmu memang aku sudah paham akan senyuman dan tertawamu yang lepas, aku tak pernah melihatmu sedih atau menangis. Dan aku terbiasa dengan itu. Bahkan ketika dahulu kita bertengkar pun kamu lebih sering mengalah dan berkata “Aku gak mau denger nya, oke kamu mau apa? Minta apapun aku turuti”. Dan benar itu works. Aku tak bisa menolak untuk meminta sesuatu ke kamu, bahkan yang gak mungkin diturutin sekalipun.

Untuk bahasan kita bertengkar, mungkin kamu nanya berapa kali kita bertengkar dahulu. Dan aku bisa jawab kita gak pernah bertengkar atau cekcok. Yang ku ingat adalah ketika aku memarahimu karena kamu mengalami kecelakaan dan itu karena salahmu tidak jujur denganku. Hanya sekali itu. 4 tahun (mungkin kamu bilang 3, tapi aku bilang 4 tahun) hanya sekali kita bertengkar. Egoku besar sekali untuk perempuan sepertimu. Namun aku tetap kalah ketika kamu memukul kelemahanku dengan cara yang belum pernah ada yang bisa melakukannya. Kamu hanya menurut terlepas kamu bisa melakukan atau gak. Seketika itu egoku turun.

Namun, aku menyakitimu. Disela-sela aku menyakitimu pun kamu tetep berkata bahwa kamu senang dengan sakit itu. Namun kamu bersedih, dan menangis di sandaranku. Seketika itu aku merasa bahwa aku terlalu dalam menyakitimu, aku terlalu menusuk bagian rongga dadamu sehingga ceriamu hilang dan kamu menangis. Pikiranku pada waktu itu campur aduk karena disamping aku yang sedang dalam pengaruh orang lain, aku juga menyakitimu dan membuatmu menangis. Aku tau yang kamu butuhkan adalah dekapan dariku. Tapi seketika itu aku flashback dimana ketika aku datang kamu tidak menangis sedih, tapi kamu ceria, kamu tertawa lepas dan itu membuatku bingung.

Kebingungan itupun diperparah karena aku juga kehilangan murphy. Memang seharusnya aku datang padamu dan mengungkapkan isi hatiku padamu, namun aku terlalu punya ego dan gengsi. Jangankan untuk mengungkapkan isi sedihku padamu, untuk mengatakan kalau kamu adalah milikku pun aku butuh sebuah isyarat. Sebesar itu ya egoku.

Aku paham kehadiranku kembali akan membuatmu (dan orang sekitarmu) shock dan bertanya, “Nih orang mau apa lagi sih”. Ditambah mungkin kamu akan merasa teringat dan menangisi kembali tentang kita. Namun apa boleh buat, aku gak bisa terus-terusan sendiri menyimpan semuanya. Aku mau didengar dan satu-satunya yang tau aku adalah kamu. Bener, satu-satunya.

Hidupku bukan hidup penuh warna seperti emoji yang selalu kamu pakai di setiap teks yang kamu kirimkan ke temanmu, ke sosial mediamu, atau dimanapun. Bahkan aku tak mengenal sticker untuk mengekspresikan semuanya. Setelah aku kembali padamu, aku mulai belajar menggunakan emoji dan sticker. Ternyata enak juga ya hehehe.

Namun dari kesedihanmu yang kembali ketika aku hadir lagi hanya berlangsung beberapa saat, aku mengenalmu. Kamu kembali ceria sesaat setelah aku hadir lagi, kamu bisa berani mengambil keputusan yang udah lama pengen kamu ambil, kamu bisa tertawa lepas saat kamu melihat kembali video yang dulu pernah kamu kirimkan padaku saat aku ulang tahun. Begitulah caraku melihatmu, jujur aku gamau melihatmu menjadi Gloomy lagi. Cerialah karena dulu yang membuatku bisa terus sama kamu adalah ceriamu.

Di beberapa simulasi yang aku jalankan, kita masih banyak halangan. Mulai dari temanmu dan orang-orang sekitarmu. Tapi gak ada yang gak mungkin kok. Semua bisa aku handle terlebih aku udah banyak belajar buku yang mungkin bagimu sangat membosankan tapi it’s works. Aku bisa ngajak ketemu temanmu dan suaminya, dan mungkin yang lain tapi masih butuh waktu dan itu gak instan.

Tetaplah ceria, karena ceriamu lah yang membuatku dulu bisa terus bertahan denganmu.