Semua terasa cepat, kemarin setelah kita bertemu pertama kali disebuah mini market dekat POM Bensin, disitu aku merasa bahwa kmu lah yang memang mengerti denganku selama ini. Apa yang aku butuhkan, apa yang aku rasakan itu jauh lebih deep dari yang aku rasakan ketika bersamanya. Memang aku sekarang terikat dengan posisiku yang salah karena sejujurnya aku tak pernah merasakan hangat nya rasa ketika dengan bersamamu.
Hal itu semakin terlihat ketika kita berada di jogja seminggu kemudian, kita cocok di banyak hal. Seharusnya tujuanku bertemu denganmu adalah untuk meminta maaf dan murni hanya itu, namun ditengah perjalanan ketika kita saling terhubung lagi aku merubah tujuanku dari yang hanya meminta maaf menjadi aku ingin memilikimu. Ini bener gak sih? Jika situasinya sudah gak bisa diubah, maka ubahlah perasaan ini menjadi ikhlas seikhlasnya.
Aku tau kondisimu sekarang, bahkan ketika di kereta kamu pun bilang padaku bahwa dengan kita terhubung lagi, rasa cintamu kembali lagi menjadi besar. Untuk apa km move on kalau ujung-ujung nya balik ke aku. Move on km mahal loh. Ditengah perjalanan kamu banyak cerita kalau km adalah broken home dan kamu butuh banget yang namanya kasih sayang dari seorang lelaki. Dan mendengar ceritamu aku bisa tau kalau km berada di Toxic Relationship. Dan benar beberapa hari berikutnya kmu mengatakan bahwa kamu kejebak di Toxic Relationship.
Disitu aku ingin nyelametin km dengan menyuruhmu putus saja, namun dengan catatan kmu harus dapat penggantinya karena aku tau Toxic Relationship itu kyk gimana, dan aku menunjuk diriku sendiri. Bukan tanpa alasan, aku sekarang dalam posisi diujung tanduk dikarenakan dia selalu memintaku untuk pisah. Akhirnya terakhir kemarin aku memutuskan tekad bulat untuk menuruti kemauannya dia dan pisah. Banyak yang menyalahkanku karena aku tak bertahan, tapi apakah mereka yang menyalahkanku pernah ada diposisiku? Kata pisah mereka anggep itu hal yang biasa? Bagiku tidak. Itu adalah tawaran berat yang harus aku terima.
Ketika kamu berpisah dengan relationshipmu aku menawarkan diri untuk jadi benteng utama bagimu, apapun yang kamu butuhkan mulai dari perhatian, sapaan, sleep call dan semua yang belum pernah aku berikan padamu sebelumnya, aku berikan semua. Sekarang aku masih menghadapi misi utama yaitu meminta maaf dengan keluarga besarmu sekaligus memintamu kembali. Ini memang sulit nantinya karena akan ada pertanyaan yang terlontar “Bagaimana dengan ikatanmu? Apakah aku akan menjadikanmu pilihan kedua?”. Tenang semua itu gak akan terjadi.
Hal itu memang gak sulit aku jawab karena kamu pun tau posisiku dengan dia seperti apa, meskipun kata “pisah” adalah ancaman palsu, tapi aku anggap itu serius dan mungkin sulit aku nerima kesempatan kedua. Berat memang, karena lawanku banyak, lawanku tidak sekedar 1 orang.
Semua ini terjadi begitu cepat, hanya 1 bulan. Sekarang mungkin aku menghadapi masalah yang baru yaitu masalah dengan teman-temanmu yang bagiku sebenarnya mudah karena mereka bukan prioritasku untuk memintamu kembali. Tapi tetep aku perjuangin karena temanmu adalah sebagian dari dalam dirimu. Aku mulai mengundang mereka satu persatu untuk mendengarkan penjelasanku karena selama ini yang kulakukan hanyalah diam ketika temanmu berbicara tentangku.
Pada kemarin malam aku sudah dijatuhkan keputusan tentang hubunganku, hubunganku yang tak bisa dilanjutkan karena kesalahannya dia sendiri. Oke aku gak bahas siapa yang salah, karena ketika aku mencari sebab muasal semua ini, dia pasti menolak mengakuinya. Jadi aku persalahkan diriku sendiri atas semua ini. Ini berbeda ketika aku menghilang dari kehidupanmu. Kamu tak pernah menyalahkanku, bahkan ada kata-katamu yang mengatakan bahwa “demi menyelamatkan nama baikmu & keluargamu & masa depan kita”. Disitu mungkin kamu udah gak kuat nahan apa yang ingin kmu ucapkan padaku selama ini.
Semua memang terkesan berantakan pada awalnya, aku memulai sebuah masalah dan aku pula-lah yang seharusnya menyelesaikan masalah tersebut. Dan mungkin juga aku pernah punya pemikiran jika kamu ingin balas dendam mungkin saat inilah waktu yang tepat, dimana aku udah berdarah-darah kamu bisa nambahin darah tersebut untuk balas dendam. Namun yang perlu kamu tau (dan mungkin teman-temanmu juga), balas dendam itu hanya memberikan sebuah efek kepuasan yang sementara. Setelah kepuasan itu habis kamu akan bingung mau melakukan apa. Tapi yang aku tau, kamu tidak akan mungkin melakukan hal tersebut, karena iya kita pernah bersama dan hubungan kita jauh lebih jauh daripada orang bayangin.
Yah aku harap kamu mengerti satu hal, kalau bisa kita perbaiki kenapa gak? Mungkin berat awalnya, tapi aku yakin kita bisa jika kamu mau. Dan kuharap kamu mau.