Teman baik, teman sejati, sahabat atau apalah sebutannya mungkin aku menghargai kehadiran mereka. Mereka bisa memilihkanku barang, mereka bisa mengejutkanku dengan surprise aneh mereka, mereka bisa menemani aku ketika aku lagi butuh seseorang. Namun udah sejak lama sih aku gak percaya dengan yang namanya teman baik. Karena ya namanya orang pasti bisa berubah, bukan begitu? Aku sering terjebak di posisi toxic friendship dimana teman-temanku tak akan membiarkan aku maju meski dalam ucapannya mereka ingin aku maju. Terus siapa yang harus aku percaya?

Sesuatu hal yang aku benci adalah ketika aku bahagia dengan pilihanku, mereka yang mengaku teman baikku malah menyarankan aku agar aku dengan orang lain. Ini gila sih, aku nyebutnya ini doktrin, karena ini bukan dari dalam diriku lalu semua orang bersekongkol untuk memintaku agar menuruti kemauannya. Apakah ini yang disebut dengan “teman”?

Seperti yang dikatakan oleh Oscar Wilde, atau lagunya BMTH yang berjudul True Friends yang mengatakan bahwa “True Friends Stab You In the Front” yang artinya adalah “Sahabatmu lah yang akan menusukmu dari depan”. Mereka tau kamu akan melakukan sebuah pilihan yang bagi mereka adalah pilihan bodoh, namun mereka tak ikut menjalani pilihan tersebut, jadi siapa yang disebut bodoh ini? Aku menjalani hidupku kenapa kamu mengaturku? Sama sepertiku, semua orang memilihkanku untuk bersama orang lain yang itu bukan kamu seakan mereka yang menjalani hidupku, dan terbukti kan aku sekarang bagaimana? Karena itu bukan pilihanku lalu ada yang bilang bahwa itu lebih baik, nantinya akan berhasil dll. Akhirnya apa? Aku yang tersiksa dengan semua itu. Mereka ngapain? Cuci tangan.

Ini bukan soal nasi udah jadi bubur, bukan. Aku juga tak menyalahkan siapapun atas semua ini. Malahan aku bersyukur dapat membuka didepanmu bahwa sahabatmu lah yang menusukmu dari depan secara langsung dan kamu melihat dirimu sendiri tertusuk. Dan mungkin kamu akan seperti aku, kamu gak akan inget kesalahan mereka ketika mereka menusukmu, tapi kamu akan sulit untuk maafin semua itu.

Hmm, ini ironi yang pahit memang, seseorang yang membantumu bangkit dari jatuh sekarang memutar balik dan jadi double agent (serius aku benci double agent). Aku tak mengerti juga kenapa mereka memilih double agent ini, atau mungkin mereka hanya ingin mentargetkan aku. Tapi mereka lupa jika ada kmu di belakangku. Jadi ketika mereka menembakku, otomatis peluru nya tembus dan mengenai kamu juga dong.

Aku agak sedih sih, karena kamu sebenarnya punya semua hal yang bisa diandalkan, dan aku mengira itu semua gak harus terjadi, karena akupun berusaha menyatukanmu dengan sahabatmu ketika semua ini terjadi yahh meski berujung itu gagal dan usahaku berakhir ancaman untuk dicelakain atau diapain (aku tak takut sama sekali). Jadi kok bisa true friends mencoba mencuri cahayamu ketika mereka sudah kehilangan cara yang baik untuk memberitahumu lalu berteman dengan musuh untuk menyerangku? Mereka lupa ya kenapa semua ini bisa terjadi.

Benci itu adalah sebuah rasa yang bagiku adalah bahan bakar (mirip bensin, pertalite), ketika ada api setitik aja, pasti terbakar. Namun mereka tidak pernah bertanya apa maumu kan? Mengapa kamu melakukan semua ini? Kenapa kamu hanya dibungkam tanpa diizinkan untuk menjelaskan kenapa? Atau ketika kamu menjelaskan-pun semua akan di hempaskan dan memilih untuk percaya dengan teman baru mereka? Terlalu banyak pertanyaan yang mungkin mereka gak mikir sejauh ini. Seharusnya yang boleh menghalangi cuman 2 orang skrang tambah lebih banyak padahal mereka gak ada hubungannya dengan aku dan kamu