Dibeberapa waktu ketika aku bekerja aku masih teringat dengan jelas ucapan dari beberapa orang yang menganggap dirinya sangat berguna menolong orang yang sedang struggle, atau putus asa. Yah gapapa juga sih karena kan sifatnya membantu. Namun ada beberapa hal yang sangat aku sayangkan ketika mereka selesai menolong, mereka menganggap harus mengatur hidup dari orang yang mereka tolong.
Sebagai contoh seperti ini, ketika kamu menolong seekor kucing jantan dijalanan yang sedang terluka, kamu rawat kucing tersebut, kamu beri makan, kamu beri tempat tinggal dll. Gak ada salahnya juga, malah itu baik. Namun kamu akan menjadi devil saat kamu melihat kucing jantan yang telah kamu tolong menginginkan kawin dengan kucing betina yang dipinggir rumahmu. Alih-alih kamu menolong kucing tersebut agar kebutuhannya terpenuhi, kamu berangkat ke dokter dan mensterilkan kucing yang telah kamu tolong tersebut (kamu mengebiri kucing tersebut). Kamu merasa bahwa kamu berhak atas hidup kucing tadi, karena kamu merasa bahwa tanpamu kucing tadi mungkin sekarang mati kelaparan dan terluka.
Hal ini jadi kebingungan buatku, apa hak mu melarang kucing yang telah kamu selamatkan tadi untuk mendapatkan keinginannya yaitu kawin dengan kucing betina? Padahal itu kebutuhannya, naluri seekor kucing. Dengan alasan bahwa kamu gak ingin ada banyak kucing disekitarmu, kamu gak ingin kucingmu tadi berubah jadi sering klayapan, kamu gak ingin kucingmu terkena penyakit setelah bergaul dengan kucing betina kampung di samping rumahmu. Apa itu gak keterlaluan?
Gini kenapa aku menulis ini, ketika aku gak ada, kamu berubah menjadi seseorang yang sama sekali tak aku kenal, kamu tidak menyayangi dirimu sendiri dengan susah makan, dengan (maaf) dijadikan boneka, kelayapan tanpa arah. Padahal dulu kamu tak seperti itu. Ditambah orang yang meng-heal kamu mengatakan bahwa tanpanya kamu gak akan bisa berdiri sendiri. Disitu aku menjadi bingung, karena sepengetahuanku orang gak akan berubah kalau tidak dari dalam dirinya sendiri. Sama dengan move on. Orang gak bakalan bisa move on kalau dia gak ingin move on. Bukan dari teman, keluarga atau siapapun. Mereka hanya support aja. Semua ini makin diperparah saat orang yang meng-heal kamu pun merasa bahwa dirinya berhak atas masa depanmu. Mereka merasa bahwa kamu harus nurut, kalau gak kita gak akan deket lagi. Terus ancaman seperti ini apakah bisa disebut dengan ikhlas?? Hmm aku tak tau.
Mereka mengatasi masalahmu tanpa memberikanmu opsi lain, opsi yang penting banget karena kamu yang akan menjalani opsi tersebut sampai kamu gak ada. Ketika kamu merasa bahwa “dipilihkan” itu jauh lebih baik daripada “memilih sendiri” maka ketika ada satu saja kesalahan yang diperbuat oleh orang yang “dipilihkan” ini terjadi kamu menyalahkan siapa? Memang mereka mau dipersalahkan?
Aku sudah mengalami hal ini, dan yah aku gak bisa menyalahkan orang lain karena kesalahan yang gak aku perbuat, disini aku menerima semuanya. Aku memikirkan masa depanku namun orang yang “memilihkan” aku bagaimana? Mereka bodo amat. Mereka cuman bisa bilang “sabar, sabar”, apanya yang sabar. Please kasih aku solusi bukan perkataan sabar.
Yah disini aku tidak membuat semua orang jelek, mungkin semua ini ada hikmahnya juga, kita pikirkan mereka dari sisi baiknya. Mereka mungkin melakukan hal itu karena mereka gak tau, dan mereka salah telah melakukan hal itu namun mereka tetep memaksakan padamu. Jadi solusi dariku adalah cobalah kamu deeptalk sama mereka, sampaikan keinginanmu dan mengesampingkan masalah yang terjadi, kamu gak butuh bukti apapun, kamu pengen didengerin aja pengenmu apa. Ketika mereka tetep tidak mengerti baru kemudian kamu boleh ambil keputusan yang mungkin agak kejam tapi ya memang cukup sampai disini mereka menemanimu. Tapi ketika mereka sudah menerimanya, barulah bilang “please support aku tanpa harus menjatuhkanku dengan bukti-bukti yang sama sekali gak relevan bagiku, aku akan tanggung apapun karena bagiku inilah yang aku butuhin. Bantu aku bilang kesemua orang kalau aku berhak bahagia”