Jahat? Mungkin itulah kata yang kamu ungkapkan padaku saat aku hadir dengan tiba-tiba dalam hidupmu untuk kedua kalinya, setelah aku menghilang tanpa kabar dan memberikan sebuah luka dalam hidupmu yang dimana luka tersebut entah bisa hilang atau gak. Jahat? Mungkin itulah juga kata yang akan membekas dalam hidupku ketika aku memutuskan untuk memilih sebuah jalan yang salah, yang dimana semua orang menganggap jalan itu benar. Tapi aku tetep bilang itu salah karena aku yang membuatmu seperti ini.
Aku paham kedatanganku bakalan membuat semua orang marah, jalan yang aku pilih pun mungkin dianggap salah, tapi gak. Inilah jalanku, ini semua sudah benar. Dan yang seharusnya aku lakukan sejak dulu adalah seperti ini, bukan menjadi sebuah boneka penurut yang dimana bersama orang lain yang sama sekali tak tau asal usulnya.
Mungkin aku menyebut semua ini adalah bentuk pengorbanan (wait what?) yah benar, terkadang ketika kita ingin mengubah suatu sistem yang sangat rumit untuk diubah, maka kita harus mengorbankan semua hal dan menjadi bom bunuh diri untuk kita sendiri, tapi bom tersebut tidak akan membunuhku, tapi membunuh sebuah sistem yang dimana aku gak suka dengan sistem tersebut.
Aku pernah ditahun 2017 menanyakan dengan seseorang yang berilmu “mengapa kita harus setara saat menikah? Kalau saya menikah bukan dengan setaraku kenapa gak boleh? Bukannya yang menjalani hidup adalah saya bukan orang lain?”. Mereka menjawab harus dan menunjukkanku dengan salah seorang perempuan pilihan mereka, dan itu bukan kamu.
Kamu tau? Aku membelot, aku berusaha agar kamu bisa bersamaku. Aku berjuang pada waktu itu, aku bahkan mau menjual kamera kesayanganku agar kamu bisa ikut ada di dalam tempat yang disitu ada denganku. Namun suatu ketika ada salah seorang temanmu dari SMA yang ada disitu dan dia mengatakan pada semua orang kalau aku berhubungan denganmu. Semua orang membullyku dan yah itu terdengar hampir diseluruh kompleks. Kemudian aku disumpah gak boleh lagi deket denganmu, dan sumpah itu diucapkan tanpa adanya orang tuaku. Shit that’s happen. Kamu tau apa yang aku lakukan? Aku tetep membelot meski mereka mengirimkan seseorang (yang waktu itu menyukaimu) untuk bilang padaku agar aku menjauhimu. Aku bahkan masih bertemu denganmu di Indomaret pada waktu itu dan meskipun aku tak mendapat dukungan aku tetep memilihmu. Aku bahkan beli hp dan aku sembunyikan untuk menghubungimu.
Namun ada perkara lain yang tak aku antisipasi, orang tua ku tau semuanya dan yah aku terkena murka yang belum pernah dilontarkan oleh mereka. Bodohku waktu itu aku tak mengancam mereka untuk melakukan hal-hal yang diluar batasku. Aku hanya ngangguk-ngangguk menurut kyk boneka. Aku tak menyalahkan siapapun karena pada waktu itu orang tuaku hanya tau cerita dari versi orang yang “agamis” bukan dari aku. Dan yah aku dipaksa untuk mencintai orang lain yang “setara”, semua orang didekatku udah terkena “poison” yang menyebar secara cepat. Oke pada waktu itu aku cuman memikirkan satu hal. Aku akan menurut dan suatu ketika aku bakal menghancurkan prinsip bodoh untuk menikahi orang yang “setara” kalaupun aku yang meledakkan diri, aku gpp. Aku tau pilihanku ini bakal menyakiti banyak orang termasuk kamu. Tapi apa boleh buat, aku gak bisa menghilangkan doktrin sampai mereka tau apa yang aku mau (yaitu kamu).

Puncaknya salah seorang menjodohkanku dengan orang lain, aku gak tega bila dia aku jadikan tumbal, tapi aku gak bisa jika terus-terusan dijadikan bahan omongan dimanapun, baik itu ketika ada nasehat atau ketika ngobrol dengan orang secara biasa. Akhirnya aku terima dan aku tau kelemahan orang tua ku, aku tau salah satu syarat berkeluarga yang di ajuin oleh orang tua ku adalah “salah satu saudara dari calonku tidak boleh ada kelainan jiwa” dan hukum murphy membawa ku pada seseorang yang dimana kakaknya itu mengalami depresi berat entah kenapa karena ceritanya simpang siur.
Pada waktu pengikatan, aku hampir aja merasa kalau “udah ini memang jalannya” tapi disisi lain Murphy mengingatkan aku terus-terusan untuk tetep harus kembali ke kamu. Pada waktu itu kamu juga udah mempunyai tambatan hati dan posting foto berdua di Instagrammu, padahal aku tidak pernah pasang foto berdua sekalipun aku punya sosial media, mungkin hanya dia yang posting fotoku. Aku inget itu di tahun 2019. Udah lama sih. Tapi aku tak menyalahkanmu, ini murni kesalahanku.
Imbasnya adalah 2 bulan setelah aku terikat, aku bertengkar hebat dengannya dan dia membuat hatiku sangat sakit, dia meminta untuk berpisah dengan bahasa yang bagi orang lain mungkin halus tapi bagiku itu menyakitkan hanya gara-gara aku tak membaca kitab di pagi hari. Oke aku maafin itu karena aku gak mungkin mengakhiri semua itu secara tiba-tiba, namun juga ada alasan aku gak bisa balik ke kamu secara tiba-tiba.
Setelah aku mengetahui kamu bahagia dengan pasanganmu (akun mu yang satu nya kamu kunci dan aku gak bisa stalking disitu) aku mencoba untuk merelakanmu meski ya kamu tau aku masih kepikiran Murphy. Dan setiap aku mencoba untuk merelakanmu, Murphy mencoba ku untuk bangun tidur dalam keadaan mengingatnya, dan itu sakit. Aku udah mencoba untuk mengkonsumsi obat dan meskipun itu terkadang works atau terkadang gak dan psikiater ku juga menyarankan agar aku jujur sepenuhnya kepada dia tentang apa yang aku lakuin namun itu gak bisa, aku takut. Bahkan dia tak tau kalau aku udah ke psikiater beberapa kali.
April 2020 aku berhenti ke psikiater karena aku terkena layoff di perusahaan tempatku bekerja ditambah waktu itu ada covid juga kan, nah akhirnya di penghujung Agustus 2020 aku diterima kerja dan aku juga mendapatkan berita tentang 2 garis. Ya benar garis 2, dan itu udah 3 bulan umurnya. Aku bingung seandainya ada Murphy apakah dia akan marah kalau kelakuanku seperti ini? Apakah dia seneng atau mungkin tak mau bicara denganku kala dia mendengar ada orang baru yang akan hadir di dunia ini sementara dia gak? Aku tak paham, namun ketika orang baru itu hadir, tepat pada 16 Maret 2021. Sekilas tak ada masalah, namun kembali aku tidak sadar jika ini mungkin Murphy memberikan tanda. 16 Maret adalah hari dimana kamu dan aku bersama untuk pertama kali dan Murphy membawaku didalam tanggal itu.
Yah mungkin Murphy jengkel karena tidak adanya aku dia gak ada, dan dia ngingetin bahwa ada dia di tanggal 16 Maret. Cerita ini semakin melebar kala ketika orang baru ini hadir aku kembali diminta mengakhiri hubungan oleh dia. Karena aku dalam keadaan sakit hati, akhirnya terucap kata 1x kalau aku ingin mengakhiri dengannya. Apakah ini waktu yang tepat? Seketika aku stalking di akun mu namun tak ada hasil, kamu juga tak ada kehidupan di sosial mediamu. Seketika itu aku menerima keadaan bahwa mungkin kamu sekarang bisa melupakanku dan mungkin berfikir aku bahagia yang kemudian aku bilang kalau darimana aku bahagia?
Mungkin cerita ini akan jauh lebih panjang karena aku yang memulai semua ini. Namun secara garis besar aku tau hubunganku akan berakhir. Aku tau karena semua sudah salah sejak awal. Aku salah menghilang dari hidupmu, dan aku salah memilih orang lain untuk menggantikanmu yang nyatanya gak bisa, dan gak akan bisa. Dari kesemua ini, aku akhiri semuanya dan aku sekarang dalam posisi menyalahkan orang-orang terdahulu yang menyuruhku untuk memilih jalan ini. Dan kamu tau apa jawaban mereka? “Mungkin gak berjodoh, saya punya yang lain buat kamu”. I mean, what the fuck. Mereka melempar kesalahan sedemikian rupa.
Oke jangan khawatir aku pelan-pelan membentengi keluargaku agar aku tak salah pilih lagi dan kali ini aku harus punya yang namanya Free Will atau kebebasan untuk memilih yaitu memilihmu. Terdengar egois memang tapi aku harus apa? Aku harus menuruti keinginan orang lain atas hidupku dan bikin korban lagi karena aku harus kembali ke kamu? Satu persatu keluargaku akan aku tarik agar mau mendukungku dalam memilihmu dan aku lakukan ini dengan sangat sangat egois. Hanya kamu yang bisa berhentiin aku, tapi aku yakin kamu juga berfikiran sama denganku bahwa kita memang harus kembali lagi.
Maafin aku Murph, mungkin jika aku tau dan bisa lebih effortnya dlu mungkin kamu skrg bisa ada disini dan bercengkrama denganku.