Dulu setiap minggu saat aku libur kuliah aku selalu dateng ke rumahmu, saat aku pulang dan saat aku mau berangkat ke luar kota menuju tempat kuliahku. Entah mungkin karena aku sendiri tidak sadar atau emang aku yang tolol yah, aku tak merasakan jika ternyata kamu adalah moodboosterku, kamu yang tiap kali menatapku dengan penuh rasa sayang ketika aku datang dan mengajakmu ngobrol, juga kamu yang menghalangiku untuk pulang cepat sembari berkata, 15 menit lagi ya yang nyatanya aku bisa sampai 2 jam lebih disitu. Semua ketololan (karena gak menyadari semua itu) terasa berat saat aku dan kamu di uji. Aku merasa kehilangan arah saat itu.
Setelah aku kehilangan arah dan takut untuk menghubungimu, aku melakukan pelarian dengan berada di ruang buku, aku habiskan banyak hal disana, membaca, memikirkan sebuah rencana khayalan akan sebuah dunia alternatif yang dimana aku tak tolol. Meski akhirnya aku tau aku harus melanjutkan hidupku disini dan aku juga mendengar kabar jika kamu udah move on dan bersama orang lain. Yah mungkin inilah jalannya, kamu sama orang lain dan aku juga melakukan hal yang sama.
Aku memang banyak berharap dengan orang yang baru, aku bisa memaksa diriku agar aku menyukainya, aku bisa memaksanya untuk nurut denganku sama seperti yang aku lakukan padamu, juga aku bisa memaksanya untuk mendengarkan semua ocehanku dan hanya fokus ke aku. Kupikir itu bisa kulakukan pada awal-awal aku dengannya sama seperti ketika aku bersamamu. Tapi ternyata gak. Setiap orang berbeda dan semua yang aku harapkan tidak pernah terjadi sama sekali. Aku tidak bisa membuat dia menurut denganku disetiap apapun perintahku yang ada malah sebaliknya aku yang menurut dengannya. Dan ketika aku mengoceh dia lebih memilih mendominasi omongan dan memaksaku untuk menjadi pendengar daripada aku yang ngomong. Ah apa ini karma? Bukannya aku tak percaya dengan karma?
Dulu ketika aku lagi banyak masalah, solusinya adalah ketemu kamu. Kita ngobrol, makan masakanmu, ketawa bareng, bicara random sampai melakukan everything. Semua itu dengan “rela” kamu lakuin untuk membuatku tetap disisimu. Aku pikir mungkin semua cewe seperti itu ketika jatuh cinta namun nyatanya gak. Mereka menjadikan pasangannya a puppet. Beratus kali aku mencoba untuk tetep bisa sama dia meski aku yang perlahan di atur oleh nya namun yah kamu udah tau aku, aku gak bisa untuk diatur.
Sekarang semua jadi lebih berwarna, aku bisa merasakan hangatnya pelukanmu, manisnya senyumanmu dan indahnya ketika kamu berkata “I Love You”. Membuat semua sedih yang aku rasa hilang. Oke aku dulu emang salah banget karena hilang gitu aja, namun apa yang sekarang harus aku perbuat selain perbaikin semua itu. Kalau pun ada mesin waktu mungkin aku akan gunain itu dan memutar semuanya dari awal. Terima kasih ya telah jadi Moodboosterku selama ini, yah aku emang kurang peka aku akuin itu.