Hei Jane, mungkin sudah ketebak yah semua ini arahku mau kemana dengan temen baikmu? Atau kamu gak ngerti Jane? Sebenarnya langkahmu sudah salah sejak awal, namun kamu membuat semua itu lebih parah lagi padahal aku sudah menawarkan padamu untuk menuntunmu. Tapi karena ke Egoisanmu sendiri yang membuat dirimu tenggelam dengan sendirinya bersama dengan pemikiran bencimu dan ke egoisanmu.
Aku tak pernah membencimu Jane, aku juga tidak pernah membuatmu jelek di depan keluarga temen baikmu, dan aku juga tidak pernah membahas dirimu sama sekali. Namun aku tak habis pikir karena kamu lah satu-satunya orang yang menyebarkan aib temen baikmu sendiri ke orang yang baru kamu kenal. Oke aku paham, kamu melakukan semua ini mungkin karena ingin menyerangku, boleh Jane, silahkan kamu serang aku dengan membawa bala tentaramu, merekam kegiatanku, merekam omonganku, mengancamku dengan ingin mencelakakanku melalui salah satu temenmu atau mungkin kamu ingin menjebak aku dan temen baikmu dengan bertemu di tempat yang kamu inginkan? Silahkan Jane. Tapi kenapa kamu menyebarkan aib temen baikmu ke orang yang bahkan baru kamu kenal. Apakah kamu lupa ada nama teman baikmu disitu? Atau kamu menganggap temen baikmu adalah musuhmu sekarang?
Mungkin dengan semua perlakuanmu tadi kamu berharap aku mengikutimu dan menuruti semua keinginanmu layaknya aku adalah sebuah boneka? Atau kamu menganggap aku adalah teman baikmu yang selama ini kamu kontrol disetiap jejaknya? Gak Jane! Aku bukan lah sebuah mesin yang mampu kamu perintah, mungkin yang aku lakukan adalah sebaliknya, kamu mungkin yang akan terkontrol oleh temen baikmu dan aku.
Dulu aku sempat bilang ke teman baikmu kalau kamu bakalan dateng dan meminta maaf di hari Lebaran tahun ini, dan sesuai yang aku duga kamu melakukannya Jane, namun hanya dari sosial media, it’s okay. Aku paham betapa susahnya kamu menurunkan ego mu dan mengetik kata maaf yang selama ini belum pernah kamu ucapkan ke siapapun karena ego mu sendiri, dan aku paham juga kamu membayangkan teman baikmu membalasmu dan mengatakan “hei i’m so sorry and i’m too fucked up, wanna meet?” Tapi itu tak akan terjadi Jane.
Aku ingin kamu lebih sadar dan membunuh ego mu. Jadi aku meminta maaf karena aku yang balas di sosial media mu. Iya itu aku. Aku tak berharap kamu balas karena aku paham sifat ego mu Jane. Sudah tau ego mu dimana? Pernahkan terlintas di pikiranmu kamu melakukan hal yang sama ketika aku datang dan meminta maaf dengan teman baikmu? Yang kamu lakukan adalah kamu yang balas pesanku, bukan temen baikmu. Namun aku tak punya ego lagi. Meski kamu hujat aku dari kolom komentar di sosial media aku tetep balas pesan dari temen baikmu (yang mana itu adalah omonganmu, bukan omongan temen baikmu ke aku).
Sekarang kamu lebih penasaran, kamu bercerita ke orang yang dulu merekam pembicaraanku, kamu jadikan dia Boneka mu karena kamu penasaran dengan kehadiranku, bukan begitu Jane? Kamu bercerita tentang balasan temen baikmu kepadamu via sosial media, kamu bertanya “ini kenapa dia seperti ini, gimana langkah dia selanjutnya?”. Dan kamu mati penasaran dengan pertanyaanmu sendiri hingga kamu pakai tangan orang lain untuk jawab pertanyaanmu. Segitu besarkah ego mu Jane?
Aku melihat ke Egoisanmu inilah yang akan menghalangimu dari pernikahan, entahlah kenapa aku berfikir demikian, namun yang akan menikahimu kemungkinan temanmu sendiri, tapi aku tak tau itu siapa. Kalaupun ada opsi lain pasanganmu mungkin dari orang antah berantah yang dimana kamu tak mampu untuk mencintainya dengan penuh. Oh come on Jane, this is simulation that already in my mind. Semua simulasi ini sudah aku jalankan ketika aku mendekat lagi dengan teman baikmu. Mungkin kamu akan bilang “Ah sok tau lo anjing”. Kita lihat saja nanti Jane.

Kamu tau gak Jane hal yang paling mengerikan adalah ketika orang tenggelam oleh rasa penasaran yang gak mungkin terjawab. Aku akan bikin semua itu lebih buruk, kamu tak akan menemukan jawaban kecuali kamu temuin aku dan temen baikmu secara langsung tanpa ada ego masing-masing. Berani kamu Jane? Hahahaha mungkin aja, tapi aku gatau juga.
Dipikiranmu aku mungkin jahat Jane, tapi coba pikir lagi, aku tak pernah jadiin sahabat baikku, pacarku atau semua orang terdekatku menjadi boneka, aku biarkan mereka memilih jalan hidupnya, tapi yang kamu lakukan berbeda Jane, sahabatmu kamu jadiin boneka, orang yg merekam pembicaraanku juga kamu jadiin boneka, bahkan Bibi dari temen baikmu juga kamu control dengan dalih penyelematan, apa yang harus di selamatkan Jane? Apakah aku monster? Kamu lupa siapa yang menjadikanku monster seperti ini? Ya kamu sendiri. Coba bayangkan kamu memberikan kebebasan memilih jalan untuk temen baikmu sendiri tanpa harus menceritakan aib nya, ini mungkin gak akan terjadi. Bahkan lebih enak menurutku, kamu jadi tau semua hal tentang aku dan temen baikmu, apa yang akan aku lakukan dan yang paling penting kamu bisa menjauhkanku dengan teman baikmu dengan cara yang sangat sangat halus, mirip lintah ketika mengambil darah dari inangnya. Tapi kamu memilih pakai cara kasar yang kamu sendiri tau bahwa itu gak akan bisa berhasil.
Akhir kata jika kamu masih penasaran, please Jane, gunakan tanganmu sendiri, turunin ego mu (atau mungkin hilangin saja) dan temuin aku serta temen baikmu dan katakan semuanya. Aku ingin tau kenapa kamu menceritakan aib yang selama ini dipendam oleh orang sekitar temen baikmu