Formula lama yang selalu kau lakukan. Entahlah sejak kau terjatuh sampai berdarah atau mungkin kiasannya kau terjatuh sampai babak belur, tapi kau tidak pernah berubah. Kau menganggap bahwa dirimu lah pusat dunia dan aku harus bertekuk lutut dihadapanmu. Semua yang kau lakukan, kau anggap itu benar, padahal tidak.
Sejak aku berpisah denganmu aku sudah menganggap bahwa kata-kata agamis yang kau ucapkan hanyalah omong kosong. Aku gak peduli dengan “hukuman” atau “neraka” yang kau sebutkan. Karena sudah dari dahulu kau lakukan itu untuk mengontrolku.
Aku sudah menawarkan sebuah solusi termudah untuk masa depan “Bunga Pagi”, yaitu bagaimana jika “Bunga Pagi” bersamaku sampai dia cukup mengerti untuk meminta bersamamu. Iya benar aku sekarang bersama “Langit” menempuh hidup baru dan meninggalkanmu sebagai “Tanah” bagiku. Namun entah kenapa kamu seakan-akan masih ingin meminta “hujan” kepadaku dan kamu mengisyaratkan bahwa “hujan” tersebut untuk “Bunga Pagi”ku.
Kamu sudah lupa ketika aku masih bersamamu, sindiran, hinaan, ketidakmampuanmu untuk memberikanku tempat yang membuatku seakan “oh aku ini sudah kebal” dan memang aku kebal. Bahkan seringkali aku berbicara padamu jika aku takut di puji daripada di hina. Tapi kamu tidak pernah mendengarkanku.
Apa yang aku lakukan dengan sindiran yang kau buat dengan AI tersebut? Aku tidak ambil pusing, yang kau katakan itu benar, kau paling benar, kau paling berharga (setidaknya bagimu bukan bagiku). Semua itu tidak mempan.