Sebelum peraturan terbaru yang mewajibkan roda 4 menggunakan MyPertamina untuk mengisi dengan pertalite saya sudah menggunakan MyPertamina dan juga LinkAja untuk mengisi pertalite. Memang saya lebih sering pakai motor dan untuk motor juga tidak ada peraturannya (untuk saat ini) ketika mau membeli pertalite harus memakai aplikasi. Namun LinkAja dan MyPertamina adalah sebuah aplikasi buatan BUMN yang sangat merepotkan bagi saya. Pertama untuk LinkAja dari interface nya yang tidak ramah di mata karena iconnya banyak, juga dari maintenance yang gak ngotak karena kadang mereka tidak memberitahu sebelumnya ketika ada maintenance, dan kadang pula maintenance ini dilakukan diwaktu aktif (antara pagi sampai jam 8 malam). Ini masih kritik untuk LinkAja loh belum MyPertamina.

Saya bukanlah pembenci aplikasi keuangan digital, saya punya kok hampir disemua keuangan digital sebut saja GoPay (karena saya memakai gojek apps), Ovo (karena di paksa pakai dahulu ketika ada Tokopedia), ShopeePay (karena kalau gak pakai ini kita bakal di palak untuk membayar ongkos kirim) dan saya tidak pernah ada masalah sama sekali, padahal mereka bukan perusahaan BUMN tapi mereka perusahaan swasta.
Jadi saya akan bercerita bagaimana semua ini berawal, jadi tadi pagi 01 Juli 2022 pukul 07:00 WIB saya berangkat ke kantor namun karena indikator bahan bakar motor saya sudah kedip-kedip akhirnya saya mampir ke SPBU deket kampus saya dahulu, disitu saya bilang ke petugasnya “Mas bisa pakai LinkAja kan?”. Dan dengan isyarat mengangguk petugas SPBU menyatakan bisa. Kemudian saya mengisi Rp. 15.000 dan saya disuruh menunggu agak kedepan untuk melakukan pembayaran. Nah disini masalahnya, ketika saya mau membayar alat yang digunakan oleh petugasnya tidak bisa ketika di klik di icon LinkAja. Saya coba mengatakan kepada petugasnya mungkin masalah pada jaringan internetnya. Mas-masnya menjawab, bukan karena QRCodenya bisa ketika memilih MyPertamina. Akhirnya saya mengalah dan membuka aplikasi MyPertamina saya. Dan saya tidak menduga kalau saya auto log-out dari aplikasi kemudian disuruh login ulang.
Baik saya turutin, saya login ulang dan MyPertamina memunculkan “Server Error silahkan dicoba lagi nanti”, dan saya sudah diam mematung 15 menit disitu dengan sekumpulan aplikasi yang seharusnya di bangun dengan baik dan dengan biaya yang tidak sedikit eh malah kalah sama aplikasi bikinan swasta. Dan kemudian saya cari jalan tengah dengan membayar pakai cash kepada petugas SPBU nya. Tau gini gak perlu kan lama-lama mending cash aja.
Hal ini secara tidak langsung menambah wp-signup.php saya untuk aplikasi-aplikasi bikinan pemerintah yang dibuat seakan alakadarnya namun budget mahal. Sebut saja PeduliLindungi, LinkAja, MyPertamina dan puluhan website berdomain go.id yang bahkan kolom komentarnya tidak diberi captcha, wordpress (what wordpress??) yang tidak di update serta server yang memakai windows server yang kita tidak tau bagaimana mereka memaintenance nya.
Tapi apakah saya kapok? Tidak, mungkin ini adalah kritik kepada perusahaan BUMN ketika mau membuat aplikasi, pastikan benar-benar di develop dan please bayarlah dengan benar programmernya, jangan di bayarkan seperti mereka teman kalian, kalau harga teman ya hasilnya pasti asal-asalan. Dan juga pastikan bisa pakai GoPay, DANA, OVO atau money digital lain untuk membayar SPBU. Toh sekarang udah ada QRIS kan jadi lebih mudah, kenapa gak di manfaatkan?