Menerimaku hadir kembali ke kehidupanmu mungkin akan jadi sebuah kesalahan terbesar bagimu jika itu terjadi. Tapi gak bagiku, aku masih belum berdamai dengan diriku sendiri karena kehilangan seseorang yang kita ciptakan. Terkadang aku masih memikirkan semua itu. Yah, aku sudah bersama dengan orang lain sekarang, situasi rumit inilah yang membuatku menjadi bingung dan bertanya: Apakah aku harus menghubungimu?
Awalnya aku menolak untuk menghubungimu, dan menyatakan bahwa aku membenci diriku sendiri karena ketidakhadiranku waktu itu membuatmu melakukan hal tersebut. Oke aku tau, kamu mungkin ingin menyelamatkan namaku dan membuatku tidak terpaksa untuk bersamamu. Aku hargai itu, namun disisi lain aku menyalahkan diriku sendiri.
Perilaku kita memang gak dibenarkan sama sekali, aku tau itu dan mungkin juga kamu membenciku karena aku tak mengakui semuanya. Tapi itu hanya awalnya karena siapa sih gak shock ketika tau berita tersebut. Namun ditengah lamunanku aku melihat seorang anak kecil yang memberiku permen. Ini bener kamu gak salah, dia ngasih aku permen dan bilang “Om aku punya permen, boleh tukar sama es yang om bawa gak?”. Kebetulan waktu itu aku memang bawa es. Dan kujawab “Gak usah dek, permennya buat kamu aja, ini om kasih es. Klo kamu kurang kesinio lagi, om beliin”. Dan senyum nya sumringah, disitu aku lebih mikir lagi. Aku suka anak kecil, terlepas dari kadang aku jahilin mereka. Tapi ya emang begitulah aku. Aku pernah dari desa ke kampus tidak pakai kacamata karena ada seorang anak kecil yang bilang. “Aku lebih suka om gak pakai kacamata”. Padahal kalau aku gak pakai, burem tuh pandangan hehe.
Aku lebih suka om gak pakai kacamata
Anak kecil, 2015
Kemudian aku bertemu dengan seorang wanita lain, ditengah aku yang tak bisa maafin diriku sendiri. Dia hadir menemaniku, memberiku sebuah nasihat dan membuatku ketawa meski itu hanya sesaat. Disaat yang lain aku masih belum bisa menghubungimu, bukan aku membencimu, tapi aku membenci diriku sendiri. Setelah sekian lama akhirnya aku melakukan hal yang mungkin akan kamu benci, yaitu menggantikanmu dengan orang lain.
Dan benar. Sehari setelah aku menggantikanmu, kamu menjadi tidak stabil dan aku memutus semua akses darimu, bahkan akses untuk diriku sendiri aku putus juga. Aku gak bisa akses apapun yang mengenai tentang salahku sendiri. Dan ya sampai akhirnya aku menemukan cuitanmu. Cuitan tentang kita, cuitan yang kamu mengungkapkan isi hatimu, dan aku tetap diam tanpa aku bisa balas apapun. Namun usahaku untuk berdamai dengan diriku sendiri menjadi lebih sulit. Aku ingin menghubungimu, tapi tiap aku coba aku selalu melihat “hate” entah kamu atau temanmu yang mengatakannya. Disitu aku berfikir. Apa aku lebih baik tidak menghubunginya? Mungkin kamu memang gak salah, aku pergi tanpa bisa menjelaskan apapun ke kamu.
Lambat laun ketika aku berpindah kerjaan dan membutuhkan suatu scan dokumen, teringat kamu pernah mengirimkan scan dokumen itu di emailku. Tapi aku lupa email yang mana. Setelah banyak aku coba aku menemukan 1 email yang ternyata kamu mengirimkan email disitu. Kamu mencurahkan semuanya, kegelisahanmu, kesalahan kita dan semuanya. Aku diem, aku berniat menjelaskan semuanya tapi apa kamu bisa menerima penjelasanku? Terlebih itu secara via email bukan secara langsung. Akhirnya aku coba kirimkan ke kamu sebuah balasan yang intinya aku ingin bertemu denganmu dan menjelaskan ini semua.
Setiap aku memulai hariku didepan layar komputer aku membuka emailku tadi, dan menutup hari ku depan layar komputer dengan merefreshnya. berharap balasanmu dateng. Harapan yang gak mungkin bukan? Tapi ketidakmungkinan itu di bantah oleh salah seorang rekan kerjaku yang mungkin dia ngawasi selama lebih dari 5 bulan aku melakukan hal yang sama. Dia berkata bahwa aku harus ngomong secara langsung ke kamu dan menjelaskan semuanya.
Awalnya aku menolak karena itu pastinya gak mungkin juga kamu mau menemui aku, jadi aku mencoba mengambil jalan curang. Aku ke tempat kerjamu saja, iya itu mungkin bisa dilakuin.
Esoknya aku mencoba melakukan hal tersebut, tapi payah aku hanya bisa berhenti diseberang jalan tanpa ada tindakan. Aku tak mengerti kenapa.
Aku tak tau mau menulis apalagi… mungkin di next akan aku perpanjang tulisan ini