Sehari-hari aku menghadap komputer, pulang kemudian istirahat. Besoknya berangkat kerja kembali. Rutinitas yang membosankan jika dipandang oleh beberapa orang. Namun untukku sepertinya tidak. Akhir-akhir ini aku lebih sering berlama-lama di kantor dan menunggu emailmu sampai akhirnya aku beranikan diri untuk meminta id Line mu. Jika kamu bertanya
“Kenapa sih Line, bukan whatsapp aja?”
Ada beberapa alasan sih, mungkin lebih ke fokus aja, WhatApp sering bikin aku ter-distract entah karena ada pesan dari Grup gak jelas macam grup SMP yang isinya cuman gibahan dan pamer harta orang tuanya, atau kelakuan bapak-bapak random yang bahas janda serta hobi memancingnya. Yah itu bikin WhatsApp sering aku matikan notifikasinya ketika kerja. Gak lucu juga ketika lagi fokus meeting dengan memasang wajah lelah dan melongo kemudian ada bapak-bapak random yang chat suruh benerin sesuatu.
“Mas, nanti sibuk gak? Mas nya kan lulusan IT jadi bisa dong benerin AC saya. AC saya smart AC soalnya”
Oke balik ke tadi, mengapa Line? Yah jadi di ponsel genggamku aplikasi yang tidak akan aku kecualikan ya Line dan Signal. Signal untuk kerja dan Line untuk kamu. Mungkin terdengar lucu, tapi bener. Kontakku cuman 1 yaitu kamu. Kalau ponselku bergetar dan muncul notif ketika aku lagi kerja udah dipastikan bukan bapak-bapak random tapi itu kamu.
Mungkin 6 tahun kita sama sekali tidak terhubung secara langsung, mungkin juga aku hanya berani liat kamu via sosmed mu tanpa berani menyentuh tombol pesan dan berdiskusi langsung. Dan mungkin juga kita terhubung satu sama lain yang aku sendiri masih menduga beberapa teori. Bisa benar ataupun salah. Selagi itu aku pengen menemui mu. Mengatakan kalau “hei aku ingin minta maaf atas apa yang telah terjadi”. Tapi mencari persetujuan darimu itu yang menjadi PR bagiku.
Beruntunglah kamu mau mencari sebuah jalan agar aku bisa minta maaf, gak hanya ke kamu. Tapi pada dasarnya aku ingin meminta maaf disemua lini sekitarmu. Yah mungkin gak sekarang tapi nanti. Aku masih fokus di kamu. Mungkin aku butuh bantuan, atau mungkin tidak?
Mungkin ada pertanyaan di benakmu. Setelah aku kamu maafkan, lalu? Ada satu permintaan yang boleh kamu ajukan padaku. Jangan tanya caraku mengabulkannya, tapi lihat caraku dan effort ku seperti yang kamu katakan pada emailmu “Aku butuh effortmu”
Haaahh ???????? Tulisan ini mungkin panjang dan belum usai. Setelah kita Line aku memberanikan diri untuk ngajak kamu ketemu secara langsung meski itu sangat singkat. Butuh waktu lebih untuk kita ngobrol (sebenarnya) tapi ada beberapa keadaan yang bikin aku meminta singkat waktumu. Dan kita bertemu, dan seperti yang kuharapkan. Kamu tidak sedih ketika melihat mimpi burukmu yaitu aku. Mungkin udah terlalu lama sehingga kamu udah terbiasa menyikapi hal seperti ini, mungkin juga gak. Disisiku aku tidak tenang, dan memilih menyembunyikannya dengan cara yang tidak biasa. Aku memilih untuk ngajak ngomong. Aku bingung mau bahas apa karena aku sendiri-pun tidak tenang.
Terima kasih telah menemui mimpi burukmu. Aku gak mau lagi jadi mimpi burukmu. Dan kalau bisa ubah jadi mimpi-mimpimu yang lebih indah dari mimpi buruk.