Don’t make me leave like this murph

Cooper, Interstellar 2014

Ketika kita sedang tertawa terbahak-bahak di sebuah ruang tamu, gak ada yang tau kita kenapa. Yang tau hanyalah kita. Kita seperti tersesat didalam dunia yang ada hanya kita, dan kamu selalu berikan aku sebuah senyuman yang bagiku ikonik. Mungkin bagimu sulit mengingat hal-hal kecil yang kamu lakukan disekitarku, entah ketika kamu masuk kedalam dan keluar dengan bau yang sangat wangi, kmu mengibaskan rokmu, atau sekedar bergeleyotan ditanganku.

Dan ketika aku ingin pulang, kamu selalu narik tanganku dan berkata “Jangan pulang dulu ya, ayo lakukan sesuatu aku pasti setuju”. Aku terkadang pun meminta sesuatu hal yang mungkin bagiku agak susah untuk kamu lakukan. “Dopamine everything, tetep bisa setuju?”. “Sekarang? Ya udah ayo”. Dan setelah kita mengkonsumsi dopamine tersebut kamu selalu memandangku dengan tatapan yang menurutku juga ikonik. Mungkin karena semua hal kecil yang kamu lakukan padaku yang akan ngingetin padaku mengapa aku jatuh cinta padamu.

Aku gak pernah memintamu untuk dandan, aku gak pernah memintamu untuk menjadi lebih cantik atau sekedar mengatakan “hei kmu kurusan, kamu gemukan” aku gak pernah memintamu hal tersebut, karena memang bukan hal itu yang bikin aku jatuh cinta padamu. Namun mungkin karena sebuah kebodohan yang aku sendiri gatau kenapa aku lakukan yang membuat kita berpisah. Dan aku sangat merindukanmu. Aku masih ingat aku selalu melihat akunmu berharap aku bisa meminta maaf setelah aku kehilangan Murphy. Aku belum melihatnya sebelum aku kehilangannya, dan aku menyalahkan diriku sendiri atas kehilangan Murphy. Aku coba menutup mata dan menjadikanku susah untuk memanggil murphy, karena setiap kali aku manggil dia, aku menyalahkan diriku sendiri.

Gak ada yang setuju dengan tindakanku untuk mengobati dan memaafkan diriku sendiri, karena aku milih jalan yang salah. Kamu pun juga menuduhku karena jalan yang aku pilih itu dikarenakan jalan tersebut masih bersih dan suci. Tapi bukan, aku hanya tersesat dan gak tau arah, gak ada yang tau ceritaku dan aku gak mungkin bercerita kecuali di kamu. Mungkin banyak yang mengatakan dengan logika nya bahwa seharusnya aku milih jalanku ke kamu. Mudah emang, karena mereka gak di posisi kita waktu itu. Aku buat salah denganmu, murphy gak ada karena aku gak pernah ngeliat dia. Dan sampai saat ini pun aku gak pernah tau murphy bagaimana.

Setiap kata “Hei”, “Daahh”, “I Love You” yang pernah kau katakan dan hal-hal kecil yang kamu lakukan itulah yang bikin aku jatuh cinta padamu. Aku pernah ngebayangin yang mengatakan hal tersebut bukan kamu, tapi Murphy. Hanya beberapa detik aku senang lalu aku menyalahkan kembali diriku.

Setiap kali aku melihatmu keluar bersenang-senang dengan temanmu untuk melupakan semua yang terjadi, aku lebih lega. Kuharap kamu bisa bercerita bebas dengan temanmu, jangan dipendam sepertiku. Karena ketika kamu pendam, cerita tersebut bisa meledak kapanpun, dan itu bukan lah cerita yang lucu bukan?

Ketika kita kembali lagi pun aku banyak meminta fotomu, itu lega kamu masih memberikannya. Dan aku seneng meski terkadang kamu bilang “Dulu kamu jarang minta fotoku”. Yah kamu lupa, waktu aku KKN aku sering minta fotomu, mungkin aku jarang minta karena setiap minggu kita pasti ketemu. Namun ada 1 foto yang buat aku terjaga semalaman, yaitu foto ketika kamu dengan murphy meski dia gak kelihatan. Foto tersebut berhasil bikin aku terjaga semalaman dan berkata “Ini kamu, maafin aku yaa. Aku jahat banget”. Dan yah seperti yang pernah kamu tulis, aku berada di pojokan sembari nangis, itu bener. Bagi teman-temanmu mungkin bilang, “Ah air mata buaya tuh biar kamu luluh”. Iya aku emang ngeluarin air mata buaya kok temanmu bener, jangan percaya orang jahat kyak aku. Tambahin lagi aja, mana ada orang jahat kyk aku terjaga semalaman hanya dari ngeliat foto. Jangan di percaya.

Kamu mungkin sekarang lebih banyak berubah, kamu bisa lebih mandiri, bisa bersenang-senang dengan temanmu. Yah aku iri sih, aku sampai sekarang belum bisa bercerita dengan jujur mengapa aku menyalahkan diriku sendiri, kecuali di kamu sih. Mungkin ada yang bertanya ke kamu “Kenapa nih orang brengs** nyadarnya baru sekarang, dulu-dulu kemana woy”. Aku milih untuk gak menjawab, karena mungkin aku jawab pun mereka gak bakal mengerti. Jangan percaya orang jahat sepertiku.

????‍???? Just listen this