Ada yang pernah bilang padaku kalau apa yang kita lakukan selama ini itu seperti mengarah ke suatu tujuan dan meski tujuan tersebut ada yang “maksa” untuk membelokkan, kita akan tetep menuju ke arah awal kita.
Oke ini akan semakin gila, dulu ketika aku dalam mode menghilang karena jadi pengecut, aku sering menghabiskan waktuku untuk membaca teori-teori sains aneh atau teori-teori psychology yang butuh beberapa kali membaca untuk memahaminya. Dan setelah selesai membacanya aku sering menarik kesimpulan bahwa kalau sesuatu tidak bisa dijelaskan dengan sains atau dibuktikan secara ilmiah maka aku tak akan percaya hal itu. Dan yah, meski buku yang aku baca sering “dirampas” karena ada aturan bahwa di “penjara” tidak boleh membaca buku-buku aneh. Aku malah makin tertarik untuk mempelajarinya.
Disela-sela ketika aku “dipenjara” seseorang mempengaruhi jalan pikiranku, dia mengatakan bahwa “Hidup seperti ini enak loh, orang nya baik-baik, nurut-nurut dan terpenting mereka orang yang punya ilmu. Ilmumu gak seberapa brother jadi kalau aku jadi kamu, aku akan milih salah satu dari mereka”. Dan karena aku sendiri sudah tidak punya orang yang dengerin aku bicara lagi (yaitu kamu), aku percaya dengan mereka. Seharusnya logikaku masih bisa digunakan waktu itu karena yang ngomong adalah orang yang menyukaimu, seingetku itu temen SMPmu (CMIIW). Kalau orang yang ngomong adalah orang yang menyukaimu, berarti dia adalah orang yang akan jauhin kamu dengan ku.
Yang lebih bodohnya lagi, dia dateng hampir tiap minggu dan ngajak aku ngobrol sembari mengatakan bahwa lebih baik cari orang selain kamu. Dan sejak saat itu aku percaya dan bertemu dengan orang lain yang dia maksud. Namun ini hanya bertemu, tidak ngobrol dan tidak melakukan kontak visual apapun.
Seperti yang aku jelaskan di paragraf awal, perilakuku seharusnya menuju ke kamu namun di belokkan secara paksa oleh orang lain bahkan orang tua ku pun juga kena pengaruhnya. Sial kan? Seharusnya aku nyadar ketika aku keluar dari “penjara” dengan tidak resmi harusnya aku kembali ke kamu. Tapi aku gak mampu, aku udah sempat naik motor dan lewat depan rumahmu, tapi untuk mampir dan meminta maaf ke Ibu aku gak sanggup. Maafin aku yah, aku akan tebus semua ini perlahan.
Aku sudah tidak menjadi diriku sejak lama, aku sering mengalah dalam hubunganku dan membiarkannya menang. Belum lagi aku sudah tidak mendominasi lagi ketika berbicara, aku sering melakukan segala hal sendirian (padahal dulu aku lebih banyak nyuruh kamu daripada kulakukan sendiri), bahkan yang mungkin menurutku parah adalah orang yang di katakan baik ternyata gak baik sama sekali karena aku sering nerima hujatan, bullyan dll. Padahal dulu ketika aku sama kamu, jangankan ada yang nge bully, motong omonganku aja gak berani. Ahh apakah aku sesabar ini sekarang.
Mungkin beberapa orang mengatakan, Hei ini bagus loh kamu kan jadi sabar, jadi baik, jadi penurut. Tapi ini bukan role ku. Role ku yang benar adalah role yang mendominasi (tapi tanpa ada kekerasan lo ya). Dan itu gak bisa aku lakuin, karena aku udah mencoba dan terjadilah bullyan. Hmm ya sudahlah mungkin aku terkena kutukan karma darimu.
Diantara carut marut tersebut aku menyadari bahwa, mungkin sudah saatnya aku keluar dari semua ini dan kembali menjadi diriku sendiri. Dan untungnya aku menemukanmu kembali, meski kamu udah banyak luka bahkan ada pisau dari pasanganmu yang menancap di badanmu tapi kamu tetep mengatakan padaku “Hei ini tetep aku, gandeng aku lagi yah. Kuatin aku”. Dan ketika kamu denganku tadi malam, aku masih ngerasain hal yang sama ketika kita masih bersama. Haahh ???????? selama ini ternyata kamu yang bikin aku seperti ini. Aku terlalu gengsi untuk mengakuinya.
Kenapa sih jadi cerita yang rumit seperti ini, kamu pun sering mengatakan padaku “Duniaku udah aku berikan padamu, tapi kenapa kamu pergi? Aku salah apa denganmu?”. Oke aku mengaku, kamu juga ikut mendesainku, kamu mendesainku untuk terus melihatmu bahagia dan tersenyum, namun ketika kamu bersedih dan menangis, aku jadi berubah. Eits tunggu duluuu…. Jangan berfikir aneh ya, karena selama km sama aku, mau aku marah besar sama km, mau aku ninggal kamu ketika ketika kita bertengkar atau aku gamau dateng kerumahmu karena aku jengkel denganmu. Semua bisa diubah dengan cara bertemu tatap muka. Kamu selalu tersenyum ketika ada aku didepanmu, padahal tadi sedang dalam posisi bertengkar.
Itulah kenapa aku selalu bilang padamu “Hei aku suka senyummu, jangan hilangin itu ya. Jangan bilang tergantung, aku tau senyummu hilang gara-gara aku. Udah ah aku juga udah gak pergi lagi”.