Efek Doppler, kita mungkin sering bahas ini di chat atau waktu kita ketemu. Mungkin gak ada yang paham sih maksud kita apa, tapi yang lucu adalah kita sering bikin sebuah bahasan dengan bahasa kita sendiri. Sebut saja everything, ubud, pojokan, 24? Eh lupakan hehehe. Nah mungkin hanya kita yang mengerti. Sama seperti The Doppler Effect atau Efek Doppler. Kalau di artikan secara langsung Efek Doppler adalah suatu kejadian di mana frekuensi gelombang dari suatu sumber yang diterima oleh detektor mengalami perubahan akibat perubahan posisi atau pergerakan relatif detektor terhadap sumber gelombang atau sebaliknya. Atau dengan bahasa yang lebih mudah lagi Efek Doppler adalah bunyi akan berubah (bisa makin kedengeran, bisa makin gak kedengeran) tergantung dari posisi sumber bunyi tersebut.

Oke mungkin kamu gak paham apa hubungannya Efek Doppler ini dengan kejadian kisah cinta seseorang? Aku ceritain, dulu ketika aku sedang dalam posisi menjadi hantu / bayangan / hilang atau apalah kamu nyebutnya, pokoknya ketika aku gak ada, aku sering mempelajari buku-buku aneh yang aku temukan di Perpustakaan Kota. Dan aku menemukan salah satu buku yang membahas tentang cinta, aku lupa judulnya apa. Tapi pada suatu chapter, penulisnya menyebutkan tentang The Doppler Effect, yaitu ketika seseorang merasa bersalah karena memutus suatu hubungan, entah dia dalam posisi benar atau salah. Penulis buku itu menjelaskan rasa bersalah tadi sama dengani Efek Doppler yaitu Suatu bunyi (rasa bersalah) akan berubah (bisa makin menjadi-jadi hingga mengakibatkan menangis dan perubahan mood yang tajam atau bisa menjadi lebih lega) tergantung dari sumber bunyinya (orang yang diputusin / pasangan yang telah di putusin). Cuman yang sering terjadi adalah pihak yang memutus hubungan adalah pihak yang merasa paling bersalah.

Yah mungkin kamu gak paham dengan penjelasanku barusan, akan aku permudah lagi. Jadi ketika salah satu pihak memutuskan untuk berhenti disuatu hubungan (istilahnya putus) maka ada 1 pihak yang tersakiti dan ada 1 pihak yang merasa bersalah. Pihak yang merasa bersalah inilah yang terkena The Doppler Effect. Rasanya bisa makin gak karuan ketika tidak ada yang bisa meng-heal (menyembuhkan) orang tersebut (yang merasa bersalah). Dan doppler effect ini bisa terjadi harian atau bahkan yang paling buruk, bisa terjadi tahunan, tergantung ada yang bisa menghindarkan Doppler Effect ini atau tidak.

Rasa bersalah tersebut bermacam-macam, ada yang memang ingin mengakhiri karena gak ingin sama-sama tersakiti, atau mungkin lelah dalam suatu hubungan, atau yang aku alami yaitu karena kehilangan sesuatu. Kamu pasti mengerti itu siapa. Dan kabar baiknya tidak ada yang bisa meng-heal atau menyembuhkan diriku. Aku sempat mencari cara sampai tersesat gak tau kemana dan ternyata aku menemukan jawaban, hanya kamu yang bisa nyembuhin ini. Iya bener yang kamu baca, aku punya jawabannya sih kenapa kok harus kamu yaitu karena aku gak pernah jujur ke siapapun atas kesalahanku padamu, apa yang aku perbuat padamu, apa yang telah kita lakukan, semuanya aku keep itu sampai sekarang. Gak ada temanku yang tau akan hal ini kecuali kamu yang beritau hal tersebut ke temanku.

Kamu tau, Doppler Effect yang aku alami, aku gatau bagaimana cara menyembuhkannya (karena yang bisa cuma kamu, dan aku baru tau ketika ketika kita ketemu), satu-satunya cara yang kulakukan adalah menjinakkannya. Aku tau itu bersifat sementara, tapi daripada aku terlalu memikirkannya dan membuat air mataku jatuh di helmku ketika aku tiba-tiba kepikiran bersamamu. Mending aku menjinakkannya bukan? Cara yang aku lakukan beragam, bisa dengan Night Bike malam-malam sendiri sepulang kerja, bermain game sampe larut malam atau aku mendengarkan playlist yang dulu aku kumpulin ketika bersamamu. Aku melakukannya sampai bertemu langsung denganmu. Bahkan aku dulu sempat berfikir ini tidak bisa disembuhkan karena aku dulu sering melihatmu di tempat kerjamu namun efeknya tetap. Huahhh 😪 menjinakkannya lama, efeknya cuman sebentar. Kemudian yah kumat lagi.

Ketika kamu memutus hubungan dengan dia, aku selalu berusaha agar kamu tak terkena efek yang sama denganku ketika aku pergi menghilang dari kehidupanmu. Karena kamu (untuk saat ini) masih belum bisa menjinakkannya. Pada saat kita bertemu, kamu bisa teralihkan dan gak sampai terkena efek ini, tapi akhirnya ketika kamu dikejar-kejar oleh dia sampai ke temanmu, ke keluargamu, ke kenalanmu dan kesemua orang. Kamu terkena lagi efek doppler ini dan itu terjadi ketika aku sedang tidak bersamamu, efek nya pun menjalar dan kamu menangis kembali. Aku tau kamu bakalan menangis sebelum kamu memberitahuku karena aku dulu merasakan hal yang sama ketika aku pergi dari kehidupanmu. Maka aku langsung pulang dan menghubungimu. Benar dugaanku, kamu menangis kembali. Jujur, seketika itu aku kembali flashback dimana kamu menangis di pundakku dan seketika itu aku kehilangan peganganku (dulu). Tapi semua hal ini terjadi bukan karena aku tapi karena orang lain, dan aku udah bisa ngendaliin Efek ini, aku hempaskan semuanya dan menghiburmu. Benar, butuh waktu sebentar untuk menenangkanmu. Disitulah aku nyadar kalau selama ini kamu butuh banget denganku, seseorang yang dulu kamu anggap bisa menuntunmu, kemudian orang tersebut berlari sendiri, membiarkanmu terjatuh dibelakang kehilangan arah. Aku menebus semua itu dan kembali menolongmu dengan paksa.

Kuharap memang ini awal yang menurut semua orang salah, tapi aku tak menganggap itu salah, karena kamu yang menjadikanku sampai seperti ini, dan sudah seharusnya aku balik ke rumahku setelah bertahun-tahun aku pergi tersesat.