Sebenarnya aku ingin menamai postingan kali ini dengan “Aku menyukai ketika kamu tertidur” namun mungkin orang lain bisa dengan menuduh dan memaknai yang lain, dan aku gamau seperti itu. Yah akhirnya judul yang bagus menurutku ya yang ini. Sebuah Untitled atau gak berjudul

Hari-hariku saat ini menjadi lebih indah dari sebelumnya bahkan mungkin ini yang paling indah dari yang pernah aku rasakan dahulu. Karena disetiap waktu ada kamu yang menemani hari-hariku. Membuatku bangkit dari rasa “doppler effect” yang mungkin terucap dari mulutku adalah aku bisa mengatasi semua itu, namun aku bisa karena kamu ada dibelakangku. Aku kembali seperti 10 tahun yang lalu, waktu dimana aku pertama kali melihat seorang cewe yang bagiku dia adalah unik. Aku mencintainya, dan aku ingin mendapatkan dia dan semua dunianya. Aku mulai cerita itu, cerita yang mungkin orang lain gamau untuk berada didalamnya karena terlalu sakit dan terlalu kejam ceritanya.

Benar katamu, mungkin kamu mengatakan sembari menangis bahwa kamu membuatkan sebuah dunia untukku, dunia yang berisi aku dan kamu serta adanya Murphy namun dalam sekejab aku hancurin dunia itu. Meninggalkanmu tanpa arah dan jatuh bangun sendiri. Mungkin bagi orang aku dengan mudah melupakanmu, iya memang. Karena memang mereka tak tau aku bagaimana. Mereka menganggap aku bahagia dan lupa, nyatanya? Hampir setiap hari aku melihatmu dari sosial mediamu, mencoba meminta maaf dengan datang langsung kerumahmu, namun aku gak bisa. Aku terlalu takut membuat luka lagi setelah menghilang.

Disisi lain hubungan yang mungkin katamu “bahagia” sedang aku wujudkan. Aku berusaha memahami orang baru dengan setiap tingkahnya yang kubenci. Memang awalnya aku bisa memaklumi hal itu, karena apa sih yang gak pernah aku coba. Untuk membuatmu tak liar lagi, menghilangkan rasa cemburuku ketika kamu dengan teman cowokmu apakah itu hal yang mudah? Gak, butuh waktu untuk membuat cemburu itu menjadi hal yang gak nakutin. Namun pada orang baru aku mendapati sebuah masalah, yaitu keikutcampuran keluarganya dan sifat merendahkan mereka. Dulu aku pernah menulis di blog ini (namun aku hapus karena kata-kataku keji banget) yang mengisyaratkan bahwa aku harus kembali ke “kasta” ku, kasta yang setiap kali keluarganya ucapkan ketika aku memberikan sesuatu, entah itu miskin, kampungan, murahan dll.

Memang aku gak bisa membelikan tas jutaan rupiah kepada orang tuanya, aku pun gak bisa membelikan jam tangan yang mahal, atau sekadar ngajak makan di restoran dengan budget 2jt sekali makan. Aku gak bisa, karena memang bukan kastaku seperti itu. Ini terlihat seperti mereka berada di lantai paling atas dan aku mengepel di lantai paling bawah. Ketimpangan sosial inilah yang juga jadi alasan aku tak mungkin untuk bertahan lagi.

Namun mungkin ada beberapa alasan kenapa aku bertahan sampai sebegitu jauhnya. Disamping karena dia yang selalu berkata bahwa gak ada cewe yang mau sama aku (karena wajahku mungkin), ditambah ketika aku memutus hubungan dengan dia, ada status yang jadi beban dalam diriku yang dimana orang lain mungkin akan sulit nerima aku. Tapi beda dengan dia. Dia masih muda, putih dan sebagian orang bilang bahwa dia memiliki face yang plus dimana dia gak sulit nemuin cowok lain seandainya aku meninggalkannya. Ini bukan tuduhan sih, karena terbukti dia bisa mencari cowok yang “mengerti” dia sehingga dia bisa chatting sampai jam setengah 3 pagi. Apa aku mempermasalahkan itu? Enggak, sama sekali. Karena aku sadar diri kita beda kasta. Kastaku miskin dan buriq, kasta dia bagai dewi dan punya segala hal.

Aku memikirkan banyak hal untuk berpisah sebelumnya, di tahun 2021 aku sengaja minggat dan jarang pulang dengan alasan kerja diluar kota karena aku sudah gak betah lagi. Namun aku terpaksa kembali karena ya tadi, siapa yang mau nerima aku yang seperti ini. Yah meski semuanya sudah manjadi makin beda saat aku kembali, dimana aku jarang makan ketika aku pulang kerja, dimana aku jauh lebih dingin dan gak merhatiin dia kenapa, ditambah untuk urusan kebutuhan yang aku bahkan males untuk melakukannya. Seperti udah diujung tanduk.

Ditahun itulah aku mencoba mencari sisa-sisa darimu. Darimu yang selalu aku rindukan. Tiap aku kerja aku mencari cara bagaimana agar aku bisa keluar dari hubungan yang aku anggap toxic ini. Hubungan dimana aku gak dianggap sama sekali bahkan untuk musyawarah kecil sekalipun. Aku akhirnya melakukan tracing terhadap diriku sendiri, aku mencari disemua hal yang ada aku dan kamu didalamnya. Ask.fm, harddisk ku, Dropbox, Facebook dan semua tentangmu. Aku skip di Instagram karena semua udah kamu hapus.

Sebentar mungkin ini lanjut part 2. Aku punya mood swing hmmm